Sebuah untaian awan yang saling rajut. Tampak dinding besar dibangun oleh batuan putih. Di tengah-tengah dinding ada sepasang pintu emas yang tertutup. Di kanannya ada sebuah singgasana berkilauan. Di situ duduklah seorang tua berambut dan berjanggut putih. Ia memakai mahkota berlian dan kakinya tertutup jubah putih panjang.
Ari Indra masuk dari kiri, mengucek-ngucek matanya. Ia memakai pakaian rumah sakit.
Indra : Holy shit. Jadi dongeng itu benar!
Tuhan : Yap.
Indra menatap ke Tuhan
Indra : Silakan. Beritahu saya anda malaikat Ridwan dan buat saya bergembira.
Tuhan : Begini Profesor Indra. Setiap anak TPA lebih bisa menebak dari pada anda. Kenapa pula malaikat duduk di singgasana?
Indra : Engkau pastinya bukan Tuhan.
Tuhan : Saya Tuhan
Indra : Wow. Jadi antropomorfisme itu benar.
Tuhan : Oh, ini hanya bentuk sementara. Agar kita nyaman. Terutama anda. Saya bisa berbentuk api atau suara yang muncul dari angina. Tapi lebih baik kalau kita berdiskusi lewat konfrontasi face to face.
Indra : Konfrontasi? OK. Saya tidak keberatan sebelum di siksa abadi selamanya di neraka.
Tuhan : Disiksa di neraka? Tolong jangan langsung melompat ke kesimpulan. Beri tahu saya, bagaimana pendapatmu atas semua ini?
Indra : Patut di sesalkan. Dan cukup aneh. Awan, singasana, jenggot. Anda cukup kreatif.
Tuhan : Bukannya Maha kreatif?
Indra : Ya. Tidak sebanding dengan kekuasaanmu.
Tuhan : Anggap saja saya menghadirkan ini semua sebagai manifestasi imajinasi agama secara umum. Tapi ini bukan bentuk saya biasanya, saya bisa yakinkan anda. Sekear lelucon saya buat anda yang selama hidup menganggap agama secara umum itu konyol.
Indra : Anda tidak tampak seperti Sang Penggerak yang tidak bergerak dalam busana itu. Thomas Aquinas pasti kaget. Oh, sekarang, - Tuhan dengan selera humor. Saya mengharapkan yang lebih heboh sebenarnya.
Tuhan : Anda ingat bagaimana anda bisa sampai kesini?
Indra : Ya. Saya ingat waktu kecelakaan mobil. Dokter bilang kalau tengkorak saya retak. Saya ingat waktu di bawa keruang operasi. Sisanya seperti lelucon dalam film Shrek saat si keleai bilang, dangan dekati cahaya, jangan dekati cahaya! Tapi saya dekati dan masuki juga.
Tuhan : Anda cukup menarik saat akan meninggal. Anda mengatakan kata2 Christian huygens tentang tiada berartinya kita dibandingkan alam ini. Pertanyaan tentang dunia lain dari Albertus Magnus dan kata2 kalau pesta besar telah berakhir mengutip Shakespeare. Seperti anda lihat, profesor Indra, pesta besar kita baru saja dimulai.
Indra : Silakan tertawa. Saya rasa anda senang. Tapi kata2 mereka lebih indah darimu. Damn it, ini tidak mungkin benar. Anda tahu kan. Ini melanggar semua nalar. Tuhan yang mengusir manusia dari surga karena terlalu ingin tahu, yang memberikan agamanya sebagai rahmat alam tapi menghukum orang2 yang tidak beriman dengan neraka, semua atas nama hukum barbar yang ia buat yang mesti di ikuti - tidak, ini terlalu absurd.
Tuhan : What? Anda menuduh saya seperti fundamentalis yang merusak dan anarkis? Kelihatannya tidak adil.
Indra : Apa maksudnya anda moderat? Tuhan yang benar untuk semua agama? Well, orang2 liberal benar kalau begitu. Tidak masalah. Silakan moderat. Nalar mengatakan anda mustahil ada.
Tuhan : Sebagian filsuf tidak setuju.
Indra : Ya. Anda pernah punya beberapa pengikut cerdas. Tapi sekarang argumen2 mereka tinggal sejarah. Anselm dan Descartes bilang definisi tuhan yang sempurna menunjukkan ia ada. Tapi argumen itu juga benar untuk kura2 yang sempurna atau wanita yang sempurna. Aquinas, mengikuti Aristoteles, mengatakan nalar menunjukkan haruslah ada penggerak pertama, pencipta alam semesta yang menjaganya, tapi tidak ada yang salah dengan bukti ilmiah bahwa alam ini berdiri sendiri dan bergerak selamanya. Anda tidak akan mempertahankan argumen Anselm dan Aquinas bukan?
Tuhan : Tidak, profesor Indra. Tidak juga saya akan mempertahankan argumen kalau alam semesta ini tidak mungkin ada tanpa penciptaan. Walau saya akui, saya selalu suka yang itu.
Indra : Dalam kasus apapun, gagasan kalau alam ini diciptakan menunjukkan tuhan yang maha pengasih itu tidak ada. Hukum alam memang indah tapi kejam. Tidak ada tuhan yang maha pengasih mau membiarkan orang2 menderita.
Tuhan : Jadi kita tiba pada inti masalahnya.
Indra : Ya. Masalah moral. Bila alam ini diciptakan, maka sang pencipta itu malas atau bila tidak, pencipta yang sadis. Anda termasuk yang mana?
Tuhan : Buka kedua2nya saya harap.
Indra : Tapi andakan menciptakan dunia?
Tuhan : Ya, jelas. Begini, profesor Indra. Saya paham emosi anda sehingga cenderung hiperbola. Dan memang hiperbola. Bagaimana dengan keberatan yang saya berikan? Kebebasan itu yang terpenting pada segala dunia yang mungkin. Akan bertentangan bagi saya memberi umat manusia kebebasan mengelola alam, dengan disaat bersamaan, menjamin mereka tidak pernah memakai kebebasan itu untuk menyebabkan penderitaan.
Indra : Seperti yang anda tahu, itu bukan pertahanan yang cukup. Paling mungkin, itu menjelaskan penderitaan yang disebabkan manusia. Tidak berlaku untuk penderitaan akibat bencana alam, seperti penyakit, gempa dan tsunami. Dan saya tidak membenarkan alasan kebebasan itu. Kebebasan terlalu mahal, terlalu banyak korban. Bebas tidak menjelaskan penderitaan.
Tuhan : Tidakkah engkau merasa ketertarikanmu pada kebebasan atau paling tidak mengenali bahwa orang lain dapat? Tidakkah engkau merasa ini sebuah isu yang orang2 rasional dapat tidak saling setuju?
Indra : Mungkin. Tapi saya masih mengatakan kalau kebebasan tidak sebanding dengan penderitaan. Lagipula, masih harus dijelaskan tentang penderitaan yang disebabkan oleh peristiwa alam. Bila anda ingin membenarkan kalau itu sebagai sebuah hukuman buat penyalahgunaan kebebasan manusia yang anda berikan, maka saya katakan hukuman yang engkau berikan itu barbar.
Tuhan : Well, bagaimana dengan pertahanan kebahagiaan? Kebahagiaan itu baik, dan merupakan bahan yang harus ada di dunia terbaik yang mungkin ada. Dan gagasan kebahagiaan di dunia tanpa penderitaan itu kontradiktif. Mustahil menjadi berani kalau tidak ada bahaya, menjadi baik hati kalau tidak ada harganya, menjadi simpati tanpa seorangpun terluka sebelumnya.
Indra : Bahkan kalau saya setuju argument it, penderitaan masih terlalu banyak.
Tuhan : What? Tinggal tambah beberapa sendok makan lagi akan memuaskan dramamu?
Indra : Walau demikian saya tidak setuju argument itu. Itu membuat arti kebahagiaan itu berbalik. Ia membuat kebahagiaan itu baik, dalam dirinya sendiri. Namun refleksi menunjukkan kalau kebahagiaan itu baik hanya sebagai alat-alat untuk kegembiraan. Apa tujuan dari keberanan, kebaikan hati, simpati, jika bukan untuk mengangkat penderitaan? Membuat penderitaan agar simpati bias dating itu seperti menendang wajah seseorang supaya anda bias minta maaf padanya. Itu absurd.
Tuhan : Jadi kalau engkau ada di posisi saya engkau akan?
Indra : Membuat umat manusia senang. Dan membiarkan mereka senang.
Tuhan : Tapi kesenangan begitu kosong.
Indra : Bagi orang luar mungkin. Tapi untuk orang yang merasa senang, itu sudah cukup.
Tuhan : Dan engkau akan menciptakan sebuah dunia tanpa tantangan?
Indra : Ya. Sebuah dunia dimana tantangan itu tidak perlu ada.
Tuhan : Dan tantangan intelektual? Akan engkau buang juga? Perjuangan heroic yang menyakitkan demi keindahan dan pengetahuan?
Indra : Ya. Kalau mereka bertentangan dengan kesenangan.
Tuhan : Tapi memang demikian bukan? Lagian, bila kesenangan itu baik, maka segala yang lain akan berlebihan.
Indra : Yap.
Tuhan : Banyak orang akan melihat nilai-nilaimu dengan kening berkerut.
Indra : Ya. Saya paham itu. Kita bisa melihat ke masa lalu ke, katakanlah, piramida Mesir dan berpikir : Ini baik; inilah bukti kecemerlangan umat manusia. Tapi di lihat lebih dekat, terasa sakit yang dirasakan para budak yang dipaksa membangunnya, dan kita bisa lihat kalau itu salah. Seseorang tidak bisa dikatakan brilian bila orang-orang yang tidak ingin mesti menderita karena itu.
Tuhan : Betapa utilitariannya kamu!
Indra : Ya. Sedikit salah pengertian sih, tapi ya. Utilitarian itu benar dan engkau salah. Dan kita belum lagi membahas tentang neraka, walau saya yakin kalau kita, atau hanya saya saja yang akan masuk ke situ sebentar lagi. Neraka itu kekejaman yang tidak dapat diragukan lagi.
Tuhan : Engkau benar-benar ingin saya jadi fundamentalis yah? Neraka itu tidak ada, professor Indra. Pikiran untuk membuatnya pernah terlintas di pikiran saya, tapi tidak pernah saya tanggapi dengan serius. Pernah ada semacam Limbo, atau Hades dulu, tapi saya menyerah. Kini hanya ada surga saja.
Indra : Mengenalmu, itu pasti menyenangkan. Mungkin sholat shubuh, mandi air dingin dan wabah hitam berkala, agar kami tetap stabil.namun bahkan kalau itu menyenangkan, engkau masih punya banyak PR yang harus dijawab. Voltaire, Dostoevsky dan tak terhitung yang lain yang pandangannya saya terima. Mereka tidak akan digetarkan oleh ikan paus atau badaimu, seperti Yunus. Ivan Karamazov karya Dostoevsky itu benar : Sekali seorang anak menderita, dunia ini kacau, dan tidak ada apapun yang dapat membuatnya kembali benar.
Tuhan : Ngomong-ngomong Voltaire dan Dostoevsky ada di sini.
Indra : Ah! Saya pasti senang berdiskusi dengan mereka. Atau , kalau tidak mungkin, cukup mendengarkanpun boleh.
Tuhan : Agak sulit sih. Tapi kembali ke point yang anda dramatisir: Saya benar-benar bertanggung jawab atas dunia yang saya ciptakan. Dan saya tidak yakin kalau saya mesti membuatnya berbeda. Perjuangan untuk kebahagiaan, keindahan dan pengetahuan : Itulah yang saya pandang paling berharga. Walau saya akui, sebagai pihak luar, saya terbuka atas tuduhan kalau saya ini kurang punya rasa simpati. Walau begitu,saya rasa dunia ini menarik apa adanya. Saya akan terus memberikan rintangan.
Indra : Rintangan-rintangan- Ya. Seperti kaisar Romawi.
Tuhan : Terserah. Tapi anda utilitarian. Anda percaya dalam kesenangan tertinggi. Tidakkah kesenangan Tuhan yang Tak Terhingga engkau perhitungkan?
Indra : Jadi perjuangan akan berlangsung selamanya. Demi menghiburmu.
Tuhan : Bukan Cuma saya. Jangan lupa bahwa banyak orang yang tidak menerima nilai-nilaimu. Mungkin saya dapat membenarkan dunia sebagaimana adanya, sebagai dukungan buat mereka. Dalam kasus manapun, manusia dapat berjuang selamanya, namun tidak setiap orang. Perjuangan individual yang berlangsung selamanya akan kehilangan semua makna dan berujung pada keputus-asaan dan kebosanan. Maka harus ada sebuah penghargaan, sebuah hadiah
Indra : Tapi bagaimana anda dapat mengaturnya secara konsisten? Ada sedikit paradoks yang harus di hadapi orang beriman : Bila kebebasan dan kebaikan adalah kemanfaatan puncak, dan pada gilirannya memerlukan penderitaan, lalu bagaimana mungkin surga itu bisa menjadi tempat yang bebas dan baik secara sempurna? Atau, bila entah bagaimana tuhan dapat mengatur untuk menciptakan kebebasan dan kebaikan tanpa penderitaan, lalu kenapa tuhan tidak membuang penderitaan dari awalnya?
Tuhan : Seperti yang telah saya katakan, perjuangan itu bagus. Tapi tidak untuk selamanya. Jadi hasil akhirnya adalah kompromi antara nilai2 saya dan anda. Profesor Indra, dunia ini tidak seperti yang anda inginkan, an saya mohon maaf untuk itu. Saya tidak akan dapat meyakinkanmu kalau ini adalah dunia terbaik yang mungkin ada dan saya tidak ingin mencobanya. Namun semua yang dapat saya ambil darimu adalah, dalam kata2 pujangga saya, setetes waktu di lautan keabadian. Jangan terlalu memaksa saya. Waktu yang tersiksa adalah milikmu.
Tuhan menggetarkan tangannya, dan pintu yang paling ujung terbuka perlahan. Di dalamnya orang2 berpakaian pasien berjalan perlahan dan teratur. Indra mempelajarinya untuk beberapa saat.
Indra : Ekspresi mereka tidak berubah
Tuhan : Mereka selalu tersenyum, tentunya. Kenapa tidak? Mereka bahagia, damai. Ekstatik.
Indra : Tapi cuma ada orang dan awan. Dimana indahnya?
Tuhan : Dalam mata mereka. Atau tepatnya dalam pikiran. Saya dapat menciptakan pemandangan yang berganti2, misalnya menghiasnya dengan karya Raphael atau Donatello, nyanyian Mozart dan Beethoven, menyerahkannya ke plato dan shakespeare. Tapi itu tidak akan ada bedanya. Mereka bahagia sempurna sebagaimana mereka, dan yang lainnya tidak relevan. Mereka bahagia. Sebagaimana juga anda sebentar lagi.
Indra : Mereka bahagia?
Tuhan : Ya
Indra : Dan saya akan bergabung dengan mereka?
Tuhan : Yap
Indra : Tunggu dulu
Tuhan : Apa lagi tujuannya. Kita telah sampai pada kesepakatan. Saya rasa saya berhutang kesempatan untuk memahamimu dan saya juga berhutang sebuah penjelasan padamu - bahkan kalau anda tidak puas.
Indra : Disana sepertinya mati rasa
Tuhan : Seperti yang adna lihat tentunya. Tapi sungguh, perbedaan kita kesampingkan, ada banyak hal lain yang dapat kita lakukan. Atau anda memilih saya lenyapkan begitu saja?
Indra : Tidak
Tuhan : ya udah, kalau begitu. Ngomong2, saya katakan bahwa saya sangat menikmati diskusi kita. Tapi ada orang2 lain yang harus saya urus. Ini waktunya buat anda untuk masuk ke surga.
Indra : Tidak, tunggu!
Indra berbalik ke arah Tuhan dengan panic dan postur memohon. Tuhan menunjuk ke Indra. Tubuh Daeng membeku sejenak, lalu santai, tangannya lemas. Wajah Daeng menunjukkan ekspresi yang murni senang, namun statis.
Tuhan : Masuk Indra, masuk.
Indra berbalik dan perlahan berjalan masuk ke gerbang, yang kemudian menutup setelah ia masuk. Tuhan memandang penuh arti ke gerbang, dan bergemeng perlahan. Seorang gadis muda, Ceria, masuk dari kiri. Ia juga memakai gaun rumah sakit. Saat melihatnya, Tuhan dengan cepat merapikan jenggotnya dan mengambil postur yang gagah. Lalu ia tersenyum padanya.
Ceria : Oh Tuhan. Engkaukah itu?
Tuhan : Ya, Ceria.
Ceria : Oh Tuhan. Engkau tepat seperti yang aku bayangkan. Berarti engkau mendengarkan doa-doa ku.
Tuhan : Saya selalu mendengarkan.
Ceria : Dan Engkau mengampuni semua dosaku?
Tuhan : Ya.
Ceria : Akankah saya masuk surga?
Tuhan : Ya, Ceriaku. Surga itu milikmu.
Dengan satu gerakan Tuhan, gerbang kembali terbuka. Indra tampak berjalan di antara orang-orang di dalam.
Ceria : Oh Tuhan, mereka sangat bahagia! Oh, Terima kasih Tuhan! Terima kasih!
Tuhan : Berkatku untukmu Ceria.
Ceria berlari menuju gerbang. Sebelum tiba di sana, Tuhan menggerakkan tangannya dan gaya berjalan Ceria pun berubah, sama seperti orang yang lain. Ia masuk dan gerbang menutup. Tuhan menghela nafas panjang dan terlihat capek. Ia menatap ke atas.
Tuhan : Cukuplah untuk sekarang. Tempat ini membuat aku depresi juga.
Tuhan turun dari singgasanya dan mengambil beberapa langkah ke kanan. Ia berhenti dan melepas mahkotanya, melemparkannya ke atas singgasana. Ia keluar lewat pintu kanan sambil melepas jubahnya.
Di adaptasi dari naskah drama karya Thomas D Davis berjudul Surprise! It’s Judgement Day dalam Philosophy fictions, 1993.